Selamat datang di situs resmi Pengadilan Negeri Purbalingga   Klik untuk mendengarkan teks yang sudah di blok Selamat datang di situs resmi Pengadilan Negeri Purbalingga Pendukung Untuk Pengguna Difabel

Sejarah Pengadilan Negeri

page

Sejarah Pengadilan

Di halaman ini dijelaskan mengenai sejarah Pengadilan Negeri Purbalingga                                                                                                                                                       

    Klik untuk mendengarkan teks yang sudah di blok Pada kira – kira abad ke – XVI di Kasultanan Cirebon, diperintah oleh seorang Sultan yang bernama Sultan Adji.Wilayahnya meliputi wilayah Jawa – Barat yang sekarang. Pada suart hari datanglah segerombolan orang – orang ke Kasultanan dengan maksud menghadap Sultan Adji. Setelah menghadap Sultan Adji menanyakan identitasnya orang yang baru menghadap tadi. Seorang yang mengaku sebagai pemimpin rombongan menerangkan bahwa ia bernama Kyai Tepus Rumput yang berasal dari negara Ngerum. Sedangkan anggotanya yang ia pimpin adalah kaluarganya. Nyai Tepus Rumput memohon kepada Sultan Adji agar ia dan keluarganya diijinkan untuk mengembangkan Agama Islam di Jawa bagian tengah disekitar gunung slamet. Permohonan Kyai Tepus dikabulkan dan Sultan Adji memberikan pesan kepada Kyai Tepus Rumput dan rombongan agar berhati – hati, mengingat daerah yang akan dituju adalah daerah yang masih angker (wingsit). Setelah mendapat ijin dari Sultan Adji maka Nyai Tepus Rumput dan rombongan yang terdiri dari 6 (enam) orang yaitu Kyai Tepus Rumput dan istrinya dan 4 (empat) anggota keluarganya segera memohon diri dan berangkat menuju daerah sekitarnya gunung slamet dengan mendapat bekal secukupnya dari Sultan. Semakin jauh rombongan Kyai Tepus Rumput meninggalkan Kesultanan Cirebon perjalanan semakin sulit, setelah rombongan menginjakan kaki gunung slamet bagian utara, disitu tidak ada lagi desa yang ada hanyalah hutan lebat disana masih terdapat banyak sekali binatang buas, terutama harimau.Pada suatu hari Kyai Tepus Rumput dan rombongan mendapat serangan dari harimau – harimau besar. Karena tidak dapat melawan maka istri Kyai Rumput Tepus dapat diterkam harimau dan disitulah korban pertama rombongan Kyai Tepus Rumput jatuh. Dibawah pohon jati ia bertapa, agar ia dan rombongannya diberi petunjuk dari Tuhan. Pada hari ke-40 (empat puluh) ia bertapa tiba-tiba ia mendengar suara dimana suara itu merupakan suatau wangsit itu yang pada intinya adalah agar Kyai Tepus Rumput untuk mengakhiri tapanya, karena sudah cukup. Kemudian ia sudah mandi jamas/junub di sungai Jojok, dimana sungai tersebut merupakan tempat bertemunya sungai Soso, sungai Tlahab dan sungai Pengon yang letaknya tidak jauh dari tempat ia bertapa. Suara itu mengatakan bahwa ia sebelum mandi menemukan suatau barang dan barang itu supaya diserahkan kepada Sultan Pajang dan setelah diserahkan maka akan berakhir penderitaannya.Pada saat menghadap Sultan Pajang, Sultan Pajang sedang mengadakan pertemuan membicarakan cicin permata yang hilang belum diketemukan. Kemudian Sultan mengadakan sayembara, barang siapa menemukan cincin itu akan diberi hadiah, apabila ia seorang laki – laki ia akan diberi istri selirnya yang tersayang dan apabila ia seorang perempuan maka ia akan dijadikan garwa (istri) ampean. Setelah ia menghadap dan ditanya identitasnya, ia menerangkan bahwa ia bernama Kyai Tepus Rumput dan ia selanjutnya menerangkan sebab – sebabnya ia menemukan cincin itu yang harus diserahkan kepada Sultan Pajang.Sultan dapat menerima atur (kata – kata) Kyai Tepus Rumput dan karenanya sabdanya harus ditepati, maka Kyai Tepus Rumput diberi hadiah istri selirnya yang tersayang dari Sultan Pajang. Akan tetapi ia tidak mau menerimanya tawaran Sultan untuk bertempat tinggal di Pajang. Karena itu ia ingin membangun daerah disekitarnya pohon jati yang harumnya wangi dimana ia pernah bertapa. Dengan mendapat bekal secukupnya dari Sultan dan pasukan tentara yang dipimpin oleh Senopati Pakujaya dan Senopati Yudamenggala, Kyai Tepus Rumput kembali ke Jati Wangi dengan istrinya yang baru. Karena istri Sultan yang diberikan kepada Kyai Tepus Rumput sedang hamil. Sultan berpesan apabila lahir anak laki – laki maka ia diberinama Raden Oro – oro, dan apabila telah dewasa supaya diangkat menjadi Hadipati ditempat  yang dibanun oleh Kyai Tpus Rumput. Sesampai ditempat pohon jati yang harum, Kyai Tepus Rumput dengan dibantu prajurit dari Pajang membuka hutan yang kebanyakan ditumbuhi pohon tepus yang waktu itu sedang berbuah. Oleh karena buah tepus itu namanya onje maka setelah berdiri menjadi Kabupaten maka diberi nama Kabupaten Onje. Setelah membangun Kabupaten Onje kemudian membangun 2 (dua) Kabupaten baru yaitu Kabupaten Cipaku yang dipimpin/diperintah oleh Senopati Paku Jaya dan Kabupaten Simodang atau diperintah oleh Senopati Yuda Menggala. Setelah Raden Oro-oro dewasa ia dinobatkan menjadi Bupati Onje yang kemudian mengambil istri Putri Paku Jaya yang bernama Banowati. Dari istri Banowati lahirlah 3 (tiga) orang anak laki – laki dan dari Pakuwati lahirlah 2 (dua) anak laki – laki juga,sehingga putra Raden Oro – oro jumlahnya menjadi 5 (lima) orang laki – laki. Pada suatu hari ketika Hadipati Oro – oro meninjau daerah kelima putranya pergi mandi kesungai Jojok dan bermain-main,sehingga singgah dipohon belimbing yang ditanam oleh Kyai Tepus Putra yang tertua memanjat pohon belimbing yang ditanam oleh Kyai Tepus Rumput untuk mengambil belimbing tersebut untuk adik – adiknya, dan adik – adiknya merasa senang, akan tetapi buah tersebut tidak sama rupa dan rasanya, ada yang rasanya pahit dan asam serta ada yang rasanya manis dan harum. Yang mendapat rasa pahit dan asam minta kepada yang  mendapat rasa manis harum akan tetapi tidak diijinkan sehingga kelima putra Raden Oro – oro tersebut terjadi perkelahian. Karena perkelahiannya itu sangat ramai sehingga terdengar oleh kedua ibu tersebut. Putri Pakuwati menuduh putra Banowati bersalah, demikian pula sebaliknya sehingga kedua ibu (istri) Hadipati Oro-oro saling bertengkar dan berkelahi.Karena itu Hadipati Oro-oro pulang dari meninjau daerah, memergoki kedua istrinya sedang bertengkar atau berkelahi sehingga hadipati Oro-oro menjadi naik darah dan lupa segalanya (kilaf). Kemudian ia menghukum dan menghunus pedang dan dipotonglah leher kedua istrinya sehingga meninggal dunia, jenazahnya dikirimkan kepada ayahnya masing-masing yaitu Bupati Pakujaya dan Bupati Yudanegara. Kemudian Hadipati Oro-oro mempersunting Nyai Pingen dan mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Kertajaya.Setelah ia dewasa diajak oleh ayahnya (Raden Oro-oro) bersama dengan rakyat Ronan mencari tempat untuk mendirikan sebuah Kabupaten baru. Yang dipilih oleh Raden Oro-oro adalah daerah sebelah barat daya sungai Klawing. Setelah pembangunan Kabupaten selesai, maka diberinama Kabupaten Purbalingga karena pembangunannya dipimpin atau dipurba oleh Oro-oro sendiri.Setelah memerintah beberapa lama, kemudian Hadipati Oro-oro meninggal dunia. Adapun makam Hadipati Oro-oro sampai sekarang tidak diketahui, namun petilasannya seperti desa Onje, desa Cipaku, desa Banowati, sungai Klawing, sungai Soso dan lain sebagainya sampai sekarang masih ada. Setelah Raden Oro-oro meninggal dunia, maka pemerintahan dipegang oleh putranya yaitu Raden Kertajaya.Kemudian Raden Kertajaya meninggal dunia setelah memerintah di Kabupaten Purbalingga dipegang oleh putranya yang bernama Raden Kertabangsa. Pada masa pemerintahan Raden Kertabangsa terjadilah peperangan antara Kabupaten Purbalingga dengan Kabupaten Sokaraja.Yang menjadi pokok persengketaan adalah keris sengkelat yang bernama Setan Kobar, kemudian Kabupaten Purbalingga dapat dikalahkan oleh Kabupaten Sokaraja dan putra Bupati Purbalingga yang bernama Raden Kaligenteng meninggal dunia pada peperangan tersebut. Setelah Raden Kertabangsa meninggal dunia tidak ada keturunannya yang menggantikan dan tamatlah keturunan Pajang yang ditanam di Onje. Pada masa pemberontakan Pangeran Diponegoro, peperangan sangat  ramai sampai di daerah Kroya (Cilacap).Belanda kewalahan dalam peperangan tersebut dan mengumumkan kepada rakyat disekitarnya bahwa siapa yang dapat memadamkan peperangan di Kroya akan diangkat menjadi Bupati di Purbalingga. Akhirnya ada orang yang dapat memadamkan peperangan itu, justru dari pelopor pasukan Pangeran Diponegoro itu yang bernama Raden Arsentaka, Setelah peperangan di Kroya padam maka Raden Arsentaka diangkat menjadi Bupati Purbalingga yang memerintah bersama-sama Belanda. Pemerintahan semakin teratur sampai terbentuknya distrik-distrik antara lain distrik Kertanegara yang sekarang menjadi Kawedanan Bobotsari, distrik Cahyana yang sekarang menjadi Kawedanan Bukateja dan dilengkapi dengan Badan pertimbangan atau Pengadilan.   Pendukung Untuk Pengguna Difabel

 

 

Klik untuk mendengarkan teks yang sudah di blok Pendukung Untuk Pengguna Difabel